catatan ringan yang (yg) belum dan tak akan pernah selesai

Standar

Jembatan berbisik, “Jadikan aku alat yang sah dari hubungan dua jalan ini.”

Sedang semua tak peduli. Ia terbaring mati. Selamanya.

*

“Selamat tinggal” ucapmu. Cinta semestinya rela saling meninggalkan.

Detak pada waktu. Sudah berada? Jejak langkah. Berapa jumlah?

*

Kangen yang salah. Buang saja di jalan! Biar itu sepi memungut dengan gelisah!

Mencintai, seperti menyusun kenangan. hanya butuh sebatas hati-hati.

*

Suarakan pilihanmu! Kerasakan! Lebih keras lagi! Kesedihan tak sanggup menghitung, bahkan sulit mengakui. Cinta gamang.

grimis memandangmu dari luar jendela kaca. senja sayu. angin masuk pelan. di bis bayi siapa ini kedinginan?

*

Ayahku pulang. Ini detik penghabisan. cinta harus pasrah di antara berpisah.

*

Kapan kita bisa menghabiskan separuh musim hanya bersama gemintang? Bukan redupnya, ini terang. Ambil satu serumu, hati begitu lapang.

*

Suatu sore dengung radio; silahkan mencintai, salam untuk hatimu. burung pulang. peraduan malam. menghindar dingin. bulan jatuh.

*

kunang-kunang diam. dalam gelas air tenang. mengalir sungai kecil darah. aku di mana nanti malam, pembunuh mengejar. lari dari sepi.

*

gatal di kepalaku. aku bilang bukan kutu bukan. ingat kamu berlebihan. sakit rambut saling ikat menjerat. jerit lirihmu, tinggalkan aku.

*

kau menangis, tepat di mataku, meminjamnya sehari, bengkak, gumpalan air mengendap, jatuh seluruh, saat kita sama-sama tak punya mata.

*

tenangkan tidurku malam ini. kau datang ke mimpi. tak apa itu sekedar mengantar selimut.

*

seolah-olah aku akan mencintaimu. kedip lampu menandakan, usai gelap, mari sekali lagi terang kita panjat.

*

Bunyi mimpi. derit pintu, ritmis grimis. adakah sepanjang malam yang menemani. jika tidur puisi masih saja belum bisa bangun.

*

aku pergi jauh-jauh darimu. tak kudengar ucapmu, “lekas kembali” tubuh butuh peluk yang luruh. binar mata. benar melulu sesuatu yang jatuh.

*

aku tidur. aku bangun musim indah di mataku. tempat sesukamu menanam. jangan tumbuhi duka. ada air tak habis terus menyiram.

*

Buang air besar di sungai, ada sensasinya sendiri. dibawa ke masa kanak-kanak. kapal-kapal kecil berlayar.

*

bintang yang semula melayang, kini hilang kekasih. adakah kau tahu. aku gambar serupa itu yang bercahaya di hatimu.

*

bangun tidur, daftar putar lagu terus mengulang. demi sebuah kepenatan, aku buat menara, gelombang radio mana yg jelas. ini pukul berapa?

*

aku berkaca pada langit, ini tubuhku mana. terbungkus kain, atas kepala terikat. belum mati, belum. dingin menggigil. hantam mati api mampus.

*

Di kepalaku sedang ada demo besar-besaran. Aku meminta turun harga cinta, sedang kamu, bersikukuh terus menaikanya.

*

masih saja kau mengintai, barangkali ada yang melawati sela-sala alismu, padahal kau tau; hujan pekat tak kunjung dating

*

hujan terlebih dulu meminangmu. kabarakan pada matahari. aku pinta bulan, pelangi pagi hari, segelas kopi, madu tak pernah habis tersedu.

*

Rumah, lembah yg tumbuh. kemudian keluarga, pekikan ayam tercekam. pergi dari kemaluan ibumu. berharga lebih sehelai cinta, titik air mata.

*

Ita dewasa. Menjelma kunang-kunang. “Jangan sebut hewan itu” seru ibunya untuk sajaku. Kuku orang mati. Ita belum, hanya sedang menjadi peri.

*

seorang perempuan, mengenakan baju coklat sepatu hitam, menggambarlah dia: selembar kain berwarna berkibar pada sebuah tiang di bawah pusarnya.

*

selepas hari yg ganjil. tutup jendela, juga segala pintu. rayakan kebersamaan kecil, mengusap, menyapa, semut yg berkeliaran lajui tubuhmu.

*

Sebab penganguran bukan pekerjaan, pura-puralah ia menjadi penyair. Dari rahim pendusta seribu pesan untuk kekasihnya, serupa puisi yg lahir

*

Di perutku ada pesta makan malam. Perih pagi ini, ternyata selain bibirmu aku juga melahap habis ucapanmu,

*

Kenangan yang membangunkanmu pagi ini, akan membangunkanmu lagi di lain pagi, pun begitu seterusnya, saat kau telah tiada.

*

Di teras rumah, embun membentuk kaki perempuan yg gemetar. Di tepian jalan, seorang lelaki bergegas mematahkan kedua tanganya.

*

Kukatakan pada ilalang, tak ketuk pintu taman. Bunga merekah lepas peluk sendiri. Aku kau jejak retak di tepian daun membusuk.

*

Menangislah di malam yg hening ini, berdoa demi pagi. Ayahmu yg telah meninggal, memanggilmu mengamini. Demi Tuhan, bersabarlah.

*

Peluk erat ibumu! Hamparan kasih, menjelma kupu-kupu. Kekasih, terbanglah. berdoa kau bahagia. Surga adalah ketenangan ibu yg mendamaikanmu.

*

Rindu itu seperi sehari saja kau tak ke kamar mandi, dan cinta sejati, nama seseorang yg kau tulis di dindingnya dengan bingkai hati. Kemudian nama itu pula yang melarangmu, “jangan keluarkan di sini”

*

Sajak yang masih terbilang muda, merancanakan ia untuk hari tuanya; membeli sepasang mata yang sanggup menangis dan membaca.

*

Aku merindukan segelas kopi yg usai kau minum, ada bekas bibirmu bak hati pecah. Kekasih, aku rindu sajak di titik resah.

*

Biarlah sajak kita terlahir prematur, asal jangan saja terlahir kembar, sebab di luar sana perayu cinta sedang menunggu untuk mengadopsinya.

*

Seorang perempuan menyeka air mata dengan kakinya, sebab kedua tangan telah habis, guna berlama-lama mengusap dada.

*

Mimpi indah untuk matamu yang hendak memejam. Peluk sendiri tubuh, pada lengan kananmu, lebar hamparan kasih,~

pada lengan kiri, banyak rasa cemburu. Letakan keduanya di dada. Hati prosa perasa.

*

Di sela hujan, angin merintihkan nama kekasihnya. Siapa yg hendak ia dekap, selain kesepian dan kesedihan.

*

Aku mencintaimu, namun kehilangan adalah jalan yg harus dilalui. Seperti halnya malam, jatuh kabut menjelma pagi.

*

Di langit, kekasihku. Kita menjatuhkan diri. Di atas tanah semua orang hilang. Lantas, kita menyebut seekor burung sedang jatuh cinta.

*

Di lembaran buku yg aku baca, kau menjelma lipatan tanda, yg mengharuskanku sebentar berhenti, sekedar mengeja makna.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku temui kata cinta di dalam rok perempuan SMA. Uh, nakal, angin lupa menutup kembali setelah membacanya.

Standar

*

“Woi! Ada yang sedang sakit! Tetanggaku” Teriak paru-paru keras sekali. Sebab aku tuli, jadi, aku hanya bisa menerjemahkan teriakanya dengan melihat asap yang keluar melalui mulut. Asap itu, kini, tak berbentuk hati.

*

Aku pernah suka kucing tapi kini aku benci sekali, ingin aku bunuh, cincang-cincang, bakar, injak-injak, buang. Aku benar-benar benci kucing. Hai kau! kenapa dulu kau kasih nama kucing itu Cinta?

*

Aku ingin menanam sebuah pohon di depan rumah, pohon apa saja, entah itu pohon rambutan, pohon nangka, bisa juga pohon jambu. Intinya pohon itu bisa mengantikan cinta kita, cinta yang tak pernah benar-benar tumbuh dan berbuah.

Coba, apa lagi yang diharapkan dari hanya gugurnya daun dan getah?

*

Cara kita mencintai begitu-begitu saja. Kau memasangkan dasi sebelum aku berangkat kerja, lalu aku kecup keningmu, aku suka yang begitu, kita tak pernah dibikin pusing untuk mencari cara lainya dan tak pernah bosan untuk terus mengulangnya.

Ada keindahan pada cinta yang biasa. Percayalah Jandaku!

*

Aku tulis pesan “sedang apa sayang” setelah selesai, aku langsung menghapusnya, terus begitu berulang-ulang, hingga aku sadar betul bahwa, “tidak ada nomer seorang pun di hpku kecuali nomerku sendiri”.

*

yang mau terbang ke bulan malam ini, namun ndak jadi, sebab sayapnya basah, yuk kita ngopi saja di teras rumah! sambil menghitung rintik hujan, sambil menghangatkan kesedihan. sayang, sudah berapa tetes air mata yang kita sia-siakan?

*

Kita mulai mencintai dengan dugaan-dugaan yang lucu, awalnya mungkin kau menyukai anjingku, awalanya mungkin juga aku menyukai kucingmu. Jadi wajar saja jika sekarang kupangil kau pusy, dan kau memangilku buddy.

*

ini musim panen, sudah saatnya aku petiki rambut-rambut yang telah menguning. tanah sepetak di atas kepala akan kucangkuli kutanam kembali dengan tumbuhan yang baru, yang tak ada bau sedikit pun tentangmu.

*

Nin, masaklah sayur yang kau tanam sendiri di atas telapak tanganmu
Nin, makanlah krupuk bersama angin
Nin, nasi pagi kemrin ada di dadaku, sudah kuhangatkan, ambil saja kapanpun kau ingin
Nin, cinta gampang basi dan mudah misikin

*

sudah, sudah. barangkali aku hanya harus menjadi gantungan kunci rumahmu
dan kamu begitu selalu kamu, aku sembunyikan di lekuk tubuhku yang malang
seribu tahun lagi kamu akan tahu
kumohon bersedihlah, mungkin untuk sekedar mengenang
atau apalah terserah.

*

Aku dengar senandung bidadari, aku lihat peri-peri menari. waktu itu kamu sedang menangis, ada yang bersuara merdu, dan ada juga yang mencium pipimu lembut-lembut mengelilingi muka berglantungan di alis mengelitik pelipis. hewan-hewan bercahaya hingap memenuhi tubuhmu, bersarang membuat negri sendiri membangun jalan dan rumah, menunjukmu jadi ratu, ratu yang begitu ramah.
tanpa sepengetahuanmu aku sering singah, walau hanya di teras berasandar dinding sedikit hilangkan lelah, namun, dalam hati terus berharap semoga ratu yang agung mengajaku masuk memberi segranya buah.
ah, pantas saja hinga kini aku menjadikanmu pusat perhatian dan lagu, terus saja seperti seperti itu:aku tau tanpa kamu tau.

*

Apa yang harus kukatakan untuk sebuah pertemuan, pertemuan yang hanya sebentar, pertemuan yang pertemuanya sendiri menyesal. selagi biasa diam, berdiamlah. aku menunggu, tunggu duduk manis di bibirmu, sembari minum kopi yang hilang rasanya, mata kita terus mengolah kata. akan lahir anak-anak kita, anak yang berupa air mata, air mata yang terus berguguran jatuh, seiring usaha untuk menjauh. kenapa lahir? seperti halnya sepi tak kita suka namun menikmati.

*

Aku jumpai di warung makan sekumpulan orang sedang membicarakan gaya rambut baru mereka, pakaian yang dikenakan warna warni membentuk pelangi, ada percakapan yang tak sengaja kudengar, kau tampak kurus sambil pegang tangan, kau semakin hitam sambil meletakan cermin di muka. setelah aku pulang aku bertanya-tanya, apa merka bisu tuhan? hingga harus aku sendiri yang membuat kesimpulan.

*

Sya, pipi tembemu
bikin iri pembuat kue saja. pembuat kue yang tiba-tiba menggerutu

” sial, kurang mengembang, gosong lagi, gara-gara pipi”

Sya, tapi jujur, aku lebih suka sesuatu yang di antaranya sesuatu yang di tengah-tengah

Sya, hidungmu, hidungmu dapat berubah-ubah
seirama siapa yang melihat dan dengan cara apa melihatnya, naik turun seperti harga daging di pasar yang penjualnya selalu bilang

“miliku lebih-lebih bagus dari miliknya ataupun milikmu”

Sya, hidungmu, hidungmu
jika naik membelah langit turun menguras parit

Sya, hidungmu

*

setiap kali tiba di terminal ini, aku seperti memasuki hatimu. rumah yang kosong.
ah, aku keluar dari pintu yang selalu terbuka, entah, mungin dulu kau lupa menutupnya. coba, apa yang disisakan dari sebuah penantian.

*

Bagaimana jika sesiang ini di temani segelas kopi, semakin hangat, ditambah lagi wajahmu terus menari di genangan air yang mendidih, mengikuti gerak alur sendok, enggan menepi terus mengocok.

Kita sama-sama malu bukan? atau sama-sama takut.
Seperti kadal, seperti kura-kura. seperti cicak, seperti siput.

*

Akan tiba saat kita tak akan tersesat, tak pernah lagi menemukan jalan buntu, kita paham betul jalan pulang dan pergi, jalan menuju rumah kita hati yang sunyi.

Cepatlah pulang, Mari rayakan pesta kecil kesepian kita.

*

Bagaimana kalau aku memiliki mata yang gila.
Bagaimana bisa kau menatapku seperti senja yang kemayu? Hai!
Aih, aku lupa, kau sudah memasang photo profil itu dari satu tahun yang lalu.
Mata itu bukan untuk menatapku, kau telah memprediksi jauh hari, lebih dari sekedar hanya menatapku. Mata itu untuk meratapiku.

*

07:00 am. Perempuan yang bersepeda di jalan perkotaan. Uh, menggemaskan.

11:30 am. Masih tentang perempuan yang bersepeda. Benar, aku tak mengikutinya, tapi entah kenapa kantin yang sama mempertemukan kita. Tepat sekali. Jodoh.

01:30 pm. Sedang corat-coret di wc, masih tentang perempuan bersepeda itu. Ini yang keluar dari pikiran saya, mungkin bisa dibilang semacam ide “akan kulamar dia secepatnya”.

03:00 pm. Kembali lagi ke pembicaraan perempuan bersepeda, jika ada yg melihatnya tolong beritahu ya! Ingin kukoleksi sepeda dan dia akan kuberi dua pilihan. Jadi istri atau selingkuhan.

Tamat

*

Sore ini, melihat anak-anak kecil hujan-hujanan di depan rumah, bertelanjang dada menengadah berteriak kencang sekali. “Hai! Hujan sakitilah hatiku, sakiti pliss! aku belum pernah sakit hati koh”. Aih, mengingatkan aku dulu pernah juga jatuh cinta pada hujan yg pemarah, sebab hujan bagiku seperti kasih sayang kedua orang tua, akan berhenti, namun tak akan menghilang, pasti kembali.

*

Nona kamu pendiam, aku suka.
Dari matamu salju turun, aku tanya “itu air mata?”
bukan, katamu “mataku sedang memutar drama korea.”

 

sebelum kita membuat kesimpulan tentang lupa

Standar

Dugaan Yang Lucu

ketika di rumah; meja yang pucat, kursi yang lelah

lemari yang bosan menyimpan segala sesuatu yang basi

kita memerankan aktor film bioskop membuat jantung mengkerut mekar

kita seperti memasuki komik kartun yang kita baca, katamu-melanjutkan-

aku penasran bagaimana akhirnya.

sudah sepantasnya-kataku-belum selesai-

kita selalu menunggu sebuah akhir yang pasti.

apa kenangan juga pasti-tanyamu

kita main kenang-kenangan-ajakmu

bukanya kita adalah sebuah kenangan-aku menyelah-

menerobos  mulutmu-mengambil semua kata-katamu-

kita mencintai dengan dugaan-dugaan yang lucu,

awalnya kau mungkin menyukai anjingku,

aku juga mungkin menyukai kucingmu,

wajar saja jika kini kupanggil kau pussy dan kau memanggilku buddy.

 

Akuarium

saban hari dipenuhi kelelahan-kelelahan yang kita buat sendiri

mengamati keluarga kecil angelfish

“layang-layang sanggup terbang dalam air”

saban hari diikuti petaka yang begitu-begitu saja

ada yang mati yang hidup tak dihidupi

“kini koi gamar menari”

layang-layang segan menyentuh langit

hanya sebatas satu jengkal di atas kepala

koi sodomi!

matahari dibilang tai.

 

Sesuatu yang kita buat sengaja

buah semangka kita belah

biji-biji  terlihat tumpang tindih

lahir anak kita dari rasa manis

jeruk yang kita kupas belum benar bersih

masih ada sisa menjadi benih

cinta kita: tunas dari yang tak tuntas

di antara kebun dan tumbuhan

sunyi yang matang jatuh

menunggu waktu, melahapnya paruh

 

Toko Serba Ada

berjalan menyusuri dalam toko yang lusuh

penjaga berupaya sekeras mungkin tersenyum

manekin lucu tertawa

gambar balita mengeluh

robot dan boneka saling hantam

piring terbang ada ayam dan kupu-kupu

jika sendok dan garpu menyilang: pertempuran usai

maaf, ada yang bisa saya bantu?

ada perempuan yang tak bermantan tuan?

aku minta bungkus satu

 

Dongeng Sehabis Tidur

sewaktu kecil aku diajarkan perihal kebahagiaan

tetapi entah,  melupakan atau lupa,

sebab tokoh dalam dongeng pun tak bahagia

nak, dengar kisah ini; seorang perempuan memiliki anak yang buta

berkata pada anaknya;

jika kamu ingin tahu ibumu dengan perasaan rabahlah wajah,

ada cinta pada benjolan yang pasrah

suara yang berkisah mengecil bersama kisahnya

mengikuti waktu yang gusar

“Ibu diantara kelingking dan jari manis yang cincin di jari manisya hilang”

 

Pakaian Kotor

aku terlalu sering melibatkan pakaian kotor di tubuh

aku jarang nyuci, tepatnya;

pakaian yang telah kupakai kugantung

dua, tiga hari kemudian aku kenakan kembali

aku suka menghirup kenangan berulang-ulang

seminggu sekali aku sempatkan merendam pakaian

selalu aku temui di kantongku banyak kecemasan
pada bulan-bulan tertentu aku membeli pakaian baru

namun tetap kotor bukan?

 

Tenda

setengah dariku adalah kosong, setengah darimu adalah kekosongan itu

setengah cahaya mungkin senja, dan setengah senja mungkin juga;

kamu yang melebur labur lebarkan aku hingga sedemikian rupa

entahlah, entah aku yang bodoh atau kamu yang mencoba membodohi

pergi saja kalau mau

sedang aku, masih terus berkemah di sakumu, mendirikan tenda, menjaga tanda

 

Ranting Patah Menentukan Nasibnya Sendiri

patahan pertama

apa yang biasa kau lakukan sebelum tidur

sekarang, boleh aku yang melakukanya, misalnya;

mengecup mataku sendiri atau menyanyikan lagu untuk kedua tanganku

patahan kedua

selagi kau masih meyakini cinta itu membahagiakan

mencitailah

pada sepasang mata aku titipkan kenangan

yang pada akhirnya aku ingin tahu;

kemana kenangan itu membawa pandanganya

patahan ketiga

sebelum kita membuat kesimpulan tentang lupa

sekali lagi aku ingin mendengar degub itu, sekali saja

 

Dialog Kesakitan

apa yang harus kukatakan untuk sebuah pertemuan, pertemuan yang hanya sebentar

pertemuan yang pertemuanya sendiri menyesal. selagi biasa diam, berdiamlah.

aku menunggu, tunggu duduk manis di bibirmu.

sembari minum kopi yang hilang rasanya, mata kita terus mengolah kata.

akan lahir anak-anak kita, anak yang berupa air mata,

air mata yang terus berguguran jatuh, seiring usaha untuk menjauh.

kenapa lahir? seperti halnya sepi, tak kita suka namun menikmati.

 

Kepada Sebuah Kenagan

akan tiba saat kita tak akan tersesat

tak pernah lagi menemui jalan buntu

kita paham betul jalan pulang dan pergi

jalan menuju rumah kita; hati yang sunyi

cepatlah pulang, mari rayakan pesta kecil kesepian kita